Shalat Dhuha

 Keutamaan dan Tata Cara Shalat Dhuha

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1. Kedudukan Shalat Dhuha

Shalat dhuha termasuk shalat sunnah yang kedudukannya tinggi. Namun, derajatnya berada di bawah shalat sunnah rawatib qabliyah dan ba’diyah. Jadi urutannya:

  1. Shalat witir,
  2. Shalat sunnah rawatib,
  3. Baru kemudian shalat dhuha.

Meskipun begitu, shalat dhuha tetap memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah ﷻ.

2. Keutamaan Shalat Dhuha

Rasulullah ﷺ bersabda:

من صلى الضحى ركعتين لم يكتب من الغافلين، ومن صلى أربعًا كتب من القانتين، ومن صلى ستًّا كُتِبَ من المطيعين، ومن صلى ثمانيًا كتب من الفائزين
“Barang siapa shalat dhuha dua rakaat, ia tidak akan ditulis sebagai orang yang lalai. Barang siapa shalat empat rakaat, ia ditulis sebagai orang yang taat. Barang siapa shalat enam rakaat, ia ditulis sebagai orang yang selalu patuh. Barang siapa shalat delapan rakaat, ia ditulis sebagai orang yang beruntung.”
(HR. Thabrani)

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

من داوم على ركعتي الضحى غفر الله له ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر
“Barang siapa memelihara shalat dhuha dua rakaat, Allah akan mengampuni dosanya meskipun sebanyak buih di lautan.”
(HR. Tirmidzi)

Selain itu, di dalam surga terdapat pintu khusus yang dinamakan Babud Dhuha. Pada hari kiamat, malaikat menyeru: “Mana orang-orang yang dahulu senantiasa melaksanakan shalat dhuha, masuklah kalian melalui pintu ini dengan rahmat Allah.”

Bahkan Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa orang munafik tidak sanggup melaksanakan shalat dhuha, meskipun hanya dua rakaat. Maka dari itu, orang yang istiqamah dengan shalat dhuha dijauhkan dari sifat kemunafikan.

3. Jumlah Rakaat

Para ulama menyebutkan:

  • Paling sedikit: 2 rakaat.
  • Umumnya: 4 rakaat.
  • Paling banyak: 8 rakaat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ummu Hani’ bahwa Rasulullah ﷺ pernah shalat dhuha 8 rakaat.

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa shalat dhuha 4 rakaat, lalu menambah sesuai kehendak Allah ﷻ.

4. Bacaan dalam Shalat Dhuha

Sebagian ulama menganjurkan bacaan tertentu, meskipun tidak wajib:

  • Rakaat pertama: Al-Fatihah, Asy-Syamsi wa Dhuhaaha (QS. Asy-Syams).
  • Rakaat kedua: Al-Fatihah, Wal-Laili Idzaa Saja (QS. Al-Lail).
  • Rakaat ketiga: Al-Fatihah, Qul yaa ayyuhal kaafiruun (QS. Al-Kafirun).
  • Rakaat keempat: Al-Fatihah, Qul huwallahu ahad (QS. Al-Ikhlas).

Jika delapan rakaat, bisa diulang dengan susunan bacaan yang sama.

5. Waktu Shalat Dhuha

Waktu shalat dhuha adalah sejak matahari naik setinggi tombak (sekitar 15 menit setelah terbit) hingga menjelang masuk waktu zuhur.

  • Awal waktu: kira-kira pukul 07.00 pagi.
  • Waktu yang paling utama (afdhal): pertengahan pagi, sekitar pukul 09.30 – 10.30, yaitu ketika matahari sudah cukup tinggi tetapi belum tergelincir.

Rasulullah ﷺ pernah shalat dhuha 6 rakaat ketika matahari sudah meninggi, dan pada kesempatan lain beliau mengerjakannya 4 atau 8 rakaat.

6. Hikmah Shalat Dhuha

  • Mengingat Allah di waktu manusia sibuk dengan urusan dunia.
  • Menjadi penghapus dosa.
  • Mendapat pintu khusus di surga (Babud Dhuha).
  • Menjadi ciri orang beruntung dan menjauhkan dari sifat munafik.
  • Mengganti sedekah untuk seluruh persendian tubuh (sebagaimana dalam hadits: setiap sendi manusia wajib bersedekah setiap hari, dan shalat dhuha mencukupinya).

7. Penutup

Shalat dhuha adalah amalan sunnah yang ringan tetapi pahalanya besar. Cukup dua rakaat setiap hari untuk menjauhkan diri dari sifat lalai. Jika mampu, kerjakan 4, 6, atau 8 rakaat agar semakin banyak keutamaannya.

Semoga Allah ﷻ menjadikan kita termasuk hamba yang istiqamah menegakkan shalat dhuha hingga akhir hayat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SHALAT JAMAK DAN QASHAR

Qurban

SHALAT BERJAMAAH