SEDEKAH

 

KEMURAHAN HATI DAN KEUTAMAAN BERSEDEKAH

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Sesungguhnya Rasulullah ﷺ tidak pernah diminta sesuatu berkaitan dengan Islam, dakwah, maupun kemajuan Islam, melainkan beliau memberikan sesuatu yang diminta tersebut.

Dikisahkan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan meminta sesuatu. Nabi kemudian memberikan kepadanya kambing dalam jumlah yang sangat banyak, sampai-sampai kambing tersebut memenuhi wilayah di antara dua gunung.

Laki-laki itu kemudian membawa seluruh kambing tersebut pulang ke kampungnya. Sesampainya di kampung, ia berkata kepada kaumnya:

يَا قَوْمِ، أَسْلِمُوا، فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءَ مَنْ لَا يَخْشَى الْفَقْرَ.

“Wahai kaumku, masuklah Islam! Sesungguhnya Muhammad memberikan pemberian seperti orang yang tidak takut miskin.”

Dengan sebab kemurahan hati Rasulullah ﷺ tersebut, laki-laki itu kemudian mengajak kaumnya untuk masuk Islam.

Ini merupakan salah satu contoh bagaimana harta dapat digunakan untuk kemajuan Islam dan dakwah.

Harta dan Amanah Kekuasaan

Pada masa Rasulullah ﷺ, terdapat harta kaum Muslimin yang dikelola oleh beliau. Harta tersebut bukanlah harta pribadi Nabi ﷺ, tetapi merupakan harta umat yang berasal dari berbagai sumber, seperti harta rampasan perang, zakat, dan sumber-sumber lainnya yang kemudian dikelola untuk kepentingan kaum Muslimin.

Karena itu, seorang pemimpin atau pejabat yang diberi amanah mengelola harta rakyat hendaknya menggunakan amanah tersebut untuk kemaslahatan masyarakat dan kemajuan agama.

Kita sebagai kaum Muslimin juga dapat memperoleh amanah berupa jabatan dan kedudukan. Apabila Allah memberikan kita kesempatan menjadi pejabat, maka jabatan tersebut hendaknya digunakan untuk kepentingan masyarakat, kemajuan umat, dan kemajuan Islam, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.

Orang yang Pemurah Dekat dengan Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْجَوَادَ قَرِيبٌ مِنَ اللَّهِ، قَرِيبٌ مِنَ الْجَنَّةِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّارِ، وَإِنَّ الْبَخِيلَ بَعِيدٌ مِنَ اللَّهِ، بَعِيدٌ مِنَ الْجَنَّةِ، بَعِيدٌ مِنَ النَّاسِ، قَرِيبٌ مِنَ النَّارِ.

“Sesungguhnya orang yang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari neraka. Sedangkan orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh dari manusia, dan dekat dengan neraka.”

Orang yang pemurah dicintai oleh Allah, disenangi manusia, dan menjadi sebab kedekatannya dengan surga. Sebaliknya, sifat kikir menjauhkan seseorang dari Allah, dari manusia, dan dari surga, serta mendekatkannya kepada neraka.

Karena itu, penyakit kikir merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya.

Setiap Kebaikan adalah Sedekah

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan seseorang dapat bernilai sedekah.

Memberikan nafkah kepada diri sendiri, kepada anak dan istri, bahkan menyediakan makanan dan pakaian untuk keluarga, semuanya dapat menjadi sedekah apabila dilakukan dengan niat yang benar.

Dengan demikian, sedekah tidak selalu berarti memberikan sesuatu kepada orang lain. Setiap pengeluaran yang dilakukan untuk kebaikan dan kemaslahatan dapat bernilai sedekah di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَا أَنْفَقْتَ مِنْ نَفَقَةٍ فَهِيَ لَكَ صَدَقَةٌ.

“Tidaklah engkau mengeluarkan suatu nafkah, melainkan nafkah itu menjadi sedekah bagimu.”

Demikian pula orang yang menunjukkan orang lain kepada suatu kebaikan akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ.

“Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”

Karena itu, ketika kita mengajak seseorang melakukan kebaikan, kita mendapatkan pahala. Orang yang melaksanakan kebaikan tersebut juga mendapatkan pahala.

Allah menyukai orang-orang yang suka membantu orang lain, khususnya mereka yang sedang berada dalam kesusahan.

AL-KARAM: BERBUAT BAIK SEBELUM DIMINTA

Diriwayatkan dari Sayyidina Hasan bin Sayyidina Ali رضي الله عنهما tentang makna al-karam.

Al-karam berarti berbuat baik dan memberi sebelum seseorang meminta.

Dalam bahasa Arab terdapat beberapa kata yang memiliki makna kemurahan hati, seperti السَّخَاءُ (as-sakhā’) dan الْكَرَمُ (al-karam). Keduanya sama-sama berkaitan dengan sifat pemurah, tetapi terdapat perbedaan dalam tingkatannya.

Orang yang sakhā’ adalah orang yang memberi ketika diminta. Adapun al-karam memiliki makna yang lebih tinggi: seseorang berbuat baik dan memberi sebelum orang lain meminta.

Inilah salah satu makna nama Allah Al-Karīm. Allah Maha Pemurah. Bahkan sebelum kita meminta, Allah telah memberikan berbagai nikmat kepada kita.

Allah memberikan makanan, kesehatan, keluarga, keamanan, rezeki, dan berbagai kenikmatan lainnya sebelum kita meminta kepada-Nya.

Orang yang memiliki sifat karam juga memiliki kasih sayang kepada orang yang membutuhkan. Ia tidak sekadar memberikan sesuatu, tetapi berusaha memberikan sesuatu yang baik dan bernilai.

Kemuliaan Memberi

Dikisahkan dari Abdullah bin Ja‘far رضي الله عنهما tentang kemurahan hati beliau. Beliau mengatakan:

الْمَعْرُوفُ كَالْمَطَرِ، يُصِيبُ الْبَرَّ وَالْفَاجِرَ.

“Kebaikan itu seperti hujan; ia turun mengenai orang yang baik maupun orang yang buruk.”

Maksudnya, seseorang yang memiliki sifat dermawan hendaknya tidak membatasi kebaikannya hanya kepada orang-orang tertentu. Ia berbuat baik karena mengharap keridaan Allah.

Apabila kebaikan tersebut diberikan kepada orang yang mulia dan memang berhak menerimanya, maka itu merupakan kebaikan yang tepat. Namun apabila kebaikan tersebut sampai kepada orang yang kurang baik sekalipun, orang yang dermawan tetap mendapatkan kemuliaan karena ia telah melakukan kebaikan.

TELADAN KEMURAHAN HATI ORANG-ORANG TERDAHULU

Dikisahkan tentang kemurahan hati orang-orang saleh pada zaman dahulu.

Di antaranya adalah kisah Ibnu Amir yang membeli sebuah rumah dengan harga sekitar 90.000 dirham.

Pada suatu malam, ia mendengar suara tangisan dari dalam rumah tersebut. Ternyata keluarga yang sebelumnya tinggal di rumah itu menangis karena rumah mereka telah dijual. Mereka bingung harus pindah ke mana dan bagaimana kehidupan mereka selanjutnya.

Ketika mengetahui hal tersebut, Ibnu Amir berkata kepada pembantunya agar mendatangi keluarga tersebut.

Ia kemudian memberikan kembali rumah itu kepada mereka. Ia tidak tega melihat mereka kehilangan tempat tinggal.

Inilah contoh kemurahan hati yang luar biasa. Ia bukan sekadar memberi ketika diminta, tetapi mengetahui kebutuhan seseorang lalu berbuat baik sebelum orang tersebut meminta.

Sedekah kepada Orang yang Membutuhkan

Dikisahkan pula tentang seorang yang memiliki kebiasaan bersedekah kepada banyak orang miskin. Ia memberikan bantuan kepada 360 orang miskin.

Kemurahan hati seperti ini merupakan salah satu bentuk akhlak mulia yang patut diteladani.

Demikian pula diriwayatkan tentang Asma binti Khārijah bahwa beliau sangat menjaga perasaan orang lain. Ia tidak membiarkan seseorang merasa terhina atau malu ketika membutuhkan bantuan.

Kemurahan hati bukan hanya persoalan seberapa banyak harta yang diberikan, tetapi juga bagaimana cara memberikan, kepada siapa diberikan, dan bagaimana menjaga kehormatan orang yang menerima.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya berusaha menjadi orang yang karīm, yaitu orang yang suka memberi, suka membantu, dan berbuat baik bahkan sebelum diminta.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta‘ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dermawan, pemurah, suka membantu orang yang membutuhkan, serta jauh dari sifat kikir.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

KEMURAHAN HATI: ORANG YANG MENERIMA SEDEKAH PUN BERJASA

Para muhibbin rahimakumullah.

Di antara kemuliaan orang yang bersedekah adalah bahwa orang yang menerima sedekah tersebut sebenarnya juga memiliki jasa kepada orang yang memberi. Mengapa demikian? Karena dengan adanya orang yang membutuhkan dan menerima pemberian kita, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk memperoleh pahala.

Dikisahkan dari orang-orang saleh terdahulu, mereka memiliki pandangan yang sangat indah terhadap orang yang menerima pemberian mereka.

Mereka mengatakan bahwa orang yang diberi makanan, pakaian, atau harta, sebenarnya telah memberikan kesempatan kepada kita untuk mendapatkan pahala. Karena itu, jangan merasa bahwa kita lebih berjasa kepada orang yang menerima sedekah. Bisa jadi, justru orang yang menerima sedekah itulah yang lebih berjasa kepada kita karena melalui dirinya Allah menghapus dosa-dosa kita, melapangkan rezeki kita, meninggikan derajat kita, dan menjauhkan bala dari kita.

Sedekah menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ

“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”

Karena itu, orang yang bersedekah jangan pernah merasa rugi. Apa yang diberikan di jalan Allah tidak akan sia-sia.

Jangan Meremehkan Orang yang Menerima Sedekah

Para muhibbin rahimakumullah.

Barangkali selama di dunia kita merasa senang ketika ada orang yang mau menerima pemberian kita. Ada orang yang datang meminta uang, kita beri. Ada orang yang membutuhkan makanan, kita beri makanan. Ada orang yang membutuhkan pakaian, kita beri pakaian.

Namun, bisa jadi keadaan akan berbeda pada hari kiamat.

Di dunia, kita mencari orang yang mau menerima sedekah kita. Akan tetapi, pada hari kiamat, boleh jadi kita justru berharap ada orang yang mau menerima pemberian kita agar kita mendapatkan pahala.

Pada hari kiamat, harta tidak lagi menjadi ukuran kemuliaan. Orang yang kaya di dunia belum tentu kaya di akhirat. Bahkan, seseorang yang dahulu memiliki banyak harta dan biasa memberi kepada orang lain mungkin akan sangat membutuhkan kesempatan untuk bersedekah kembali.

Karena itu, ketika ada orang yang menerima sedekah kita, jangan merasa sedang berjasa kepadanya. Bersyukurlah karena Allah telah memberikan kesempatan kepada kita untuk beramal.

Dengan diterimanya sedekah kita, pahala kita dapat bertambah, dosa kita dapat dihapuskan, derajat kita dapat ditinggikan, rezeki kita dapat dilapangkan, dan bala dapat dijauhkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

ORANG YANG PEMURAH TIDAK MERASA TELAH MEMBERI BANYAK

Dikisahkan tentang seorang yang sangat pemurah. Setiap kali ada seseorang yang datang kepadanya dan meminta sesuatu, ia selalu memberikan apa yang dimilikinya. Namun, yang menarik adalah ia tidak pernah merasa bahwa pemberiannya itu banyak.

Ia selalu merasa bahwa apa yang telah diberikannya masih sedikit.

Inilah salah satu tanda kemurahan hati yang sejati. Orang yang benar-benar pemurah tidak sibuk menghitung apa yang telah ia berikan. Ia tidak merasa berjasa kepada orang lain.

Ada tiga sifat yang menyebabkan seseorang sangat dihormati dan dimuliakan karena kemurahan hatinya.

Pertama, ia tidak mau duduk dengan menjulurkan kakinya ketika ada orang lain di hadapannya. Ia sangat menjaga adab dan perasaan orang lain.

Kedua, apabila ia memberikan makanan kepada seseorang, ia justru merasa bahwa dirinya memiliki utang jasa kepada orang yang memakan makanan tersebut.

Ketiga, setiap kali memberikan sesuatu kepada orang lain, ia tidak pernah merasa bahwa dirinya telah memberikan sesuatu yang banyak.

Inilah akhlak orang-orang yang benar-benar pemurah.

KEMURAHAN HATI HAMMAD BIN ABI SULAIMAN

Diriwayatkan dari Imam Syafi'i رحمه الله bahwa beliau sangat mencintai Hammad bin Abi Sulaiman karena kemurahan hati dan kebaikannya.

Dikisahkan, suatu ketika Hammad bin Abi Sulaiman sedang menaiki kendaraan. Di tengah perjalanan, beliau melewati seorang tukang jahit.

Beliau kemudian turun dari kendaraannya dan meminta tukang jahit tersebut memperbaiki pakaiannya.

Setelah selesai, Hammad bin Abi Sulaiman memberikan kepada tukang jahit tersebut sejumlah uang yang sangat besar, yaitu 10 dinar.

Sepuluh dinar pada masa itu bukanlah jumlah yang sedikit. Satu dinar memiliki nilai yang besar karena berkaitan dengan emas. Hal ini menunjukkan betapa pemurahnya orang-orang saleh pada zaman dahulu.

Jika dibandingkan dengan keadaan sekarang, mungkin pemberian tersebut jauh lebih besar daripada sekadar memberikan upah jahit biasa.

Karena kemurahan hati itulah Imam Syafi'i رحمه الله sangat mencintai Hammad bin Abi Sulaiman.

Imam Syafi'i berkata:

أُحِبُّ حَمَّادَ بْنَ أَبِي سُلَيْمَانَ لِمَا بَلَغَنِي عَنْهُ.

“Aku mencintai Hammad bin Abi Sulaiman karena apa yang sampai kepadaku tentang dirinya.”

Ini menunjukkan bahwa akhlak seseorang dapat menyebabkan ia dicintai oleh para ulama, meskipun orang tersebut tidak memiliki kedudukan duniawi yang tinggi.

KEMURAHAN HATI IMAM SYAFI'I

Di antara sifat mulia Imam Syafi'i رحمه الله adalah beliau sangat memperhatikan orang yang datang kepadanya untuk meminta bantuan.

Dikisahkan, pernah datang seseorang kepada beliau dalam keadaan membutuhkan. Orang tersebut meminta sesuatu yang tidak dimiliki oleh Imam Syafi'i.

Imam Syafi'i merasa sangat sedih karena tidak mampu memenuhi kebutuhan orang tersebut.

Dalam keadaan demikian, beliau tidak membiarkan orang itu pulang tanpa membawa sesuatu.

Beliau kemudian memerintahkan pembantunya:

“Berikan kepadanya empat dinar.”

Pembantunya pun memberikan empat dinar kepada orang tersebut.

Ini menunjukkan bahwa orang-orang saleh terdahulu merasa sedih bukan karena hartanya berkurang ketika memberi, tetapi karena tidak mampu memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan.

SEDEKAH YANG BESAR DAN KESEDIHAN KARENA TIDAK MAMPU MEMBERI

Dikisahkan pula tentang seorang yang datang meminta bantuan kepada seseorang yang memiliki harta sangat banyak. Ia membutuhkan sejumlah besar uang untuk menyelesaikan suatu kebutuhan.

Orang tersebut kemudian memberikan kepadanya 100.000 dirham.

Jumlah tersebut sangat besar. Namun, orang yang menerima pemberian itu justru menangis.

Ia ditanya, “Mengapa engkau menangis?”

Ia menjawab dengan penuh haru bahwa ia merasa sedih karena bumi masih mau memakan orang yang memiliki kemurahan hati sebesar itu. Maksudnya, ia merasa sangat kehilangan jika suatu hari orang yang sangat dermawan tersebut meninggal dunia.

Mendengar jawaban itu, sang dermawan justru memerintahkan agar orang tersebut diberikan tambahan lagi.

Inilah gambaran kemurahan hati yang luar biasa: semakin dipuji karena memberi, semakin ia ingin memberi.

KERINDUAN SAYYIDINA ALI KEPADA TAMU

Dikisahkan pula bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah menangis.

Orang-orang bertanya:

“Wahai Sayyidina Ali, mengapa engkau menangis?”

Beliau menjawab bahwa sudah tujuh hari tidak ada tamu yang datang kepadanya.

Tujuh hari tidak ada seorang pun yang datang bertamu.

Mengapa hal itu membuat beliau sedih?

Karena bagi orang-orang saleh, kedatangan tamu merupakan kesempatan mendapatkan pahala. Tamu membawa banyak keberkahan. Dengan menjamu tamu, seseorang memperoleh kesempatan untuk berbuat baik, memberi makan, memuliakan orang lain, dan mendapatkan pahala dari Allah.

Karena itu, Sayyidina Ali khawatir bahwa tidak datangnya tamu merupakan bentuk terhalangnya dirinya dari kesempatan berbuat baik.

Beliau bahkan merasa takut bahwa Allah sedang menghinakannya karena tidak diberikan kesempatan untuk menjamu tamu.

Betapa berbeda cara pandang orang-orang saleh dengan cara pandang kita.

Kita terkadang merasa repot ketika ada tamu datang. Mereka justru merasa sedih ketika tidak ada tamu yang datang karena mereka kehilangan kesempatan untuk memperoleh pahala.

ORANG SALEH MENGETAHUI KEBUTUHAN KAWANNYA

Diriwayatkan pula sebuah kisah tentang seorang laki-laki yang mendatangi rumah kawannya.

Ia mengetuk pintu.

Pemilik rumah kemudian keluar dan bertanya:

“Wahai saudaraku, mengapa engkau datang?”

Ia menjawab bahwa dirinya memiliki utang sebesar 400 dirham dan membutuhkan bantuan untuk melunasinya.

Mendengar hal tersebut, kawannya segera mengeluarkan uang dan memberikan kepadanya 400 dirham untuk melunasi utangnya.

Namun, setelah orang tersebut pulang, sang pemberi justru menangis.

Ia ditanya:

“Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau baru saja membantu kawanmu?”

Ia menjawab dengan penuh penyesalan:

“Aku menangis karena selama ini aku tidak mengetahui keadaan kawanku. Mengapa sampai ia harus datang dan mengetuk pintuku untuk memberitahukan bahwa ia mempunyai utang? Seharusnya aku mengetahui keadaannya sebelum ia datang meminta bantuan kepadaku.”

Inilah akhlak persahabatan yang sebenarnya.

Seorang sahabat tidak hanya membantu ketika diminta. Ia berusaha mengetahui keadaan sahabatnya sebelum sahabat itu meminta pertolongan.

Ia merasa malu jika seorang kawannya yang sedang kesusahan harus datang terlebih dahulu untuk meminta bantuan.

AKHLAK ORANG-ORANG SALEH

Para muhibbin rahimakumullah.

Kisah-kisah tersebut memberikan pelajaran yang sangat besar kepada kita tentang bagaimana sifat pemurah orang-orang saleh pada masa dahulu.

Mereka pemurah kepada kawan, pemurah kepada orang yang membutuhkan, pemurah kepada siapa saja yang datang kepada mereka.

Mereka tidak merasa berjasa ketika memberikan sesuatu. Bahkan, mereka merasa bahwa orang yang menerima pemberian merekalah yang telah berjasa karena memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pahala.

Mereka juga tidak menunggu seseorang meminta. Sebelum diminta, mereka berusaha mengetahui kebutuhannya.

Inilah salah satu bentuk al-karam, yaitu kemurahan hati yang tinggi: memberikan kebaikan sebelum diminta.

Karena itu, marilah kita belajar menjadi orang yang pemurah. Jangan menunggu seseorang meminta baru kita membantu. Jika kita mengetahui ada orang yang membutuhkan, bantulah sesuai kemampuan.

Jangan pula merasa berjasa ketika memberikan. Justru bersyukurlah kepada Allah karena Dia telah menjadikan kita sebagai perantara kebaikan bagi orang lain.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang dermawan, pemurah, ringan tangan dalam membantu, ikhlas dalam memberi, dan tidak pernah merasa berjasa atas pemberian yang kita lakukan.

Āmīn yā Rabbal 'ālamīn.

Penutup

Selanjutnya, pembahasan akan beralih kepada penjelasan tentang bahaya sifat kikir (البُخْلُ) dan peringatan Rasulullah ﷺ terhadap penyakit hati tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penetapan Waktu-Waktu Terlarang

penutup : Salat Sunah Lebih Utama di Rumah

10 KEUTAMAAN SEDEKAH